Memoar terbaru penulis feminis Lindy West, Kawat Gigi Dewasa, telah memicu perdebatan sengit di dunia maya. Buku ini merinci perjalanannya menuju poliamori setelah suaminya mengusulkan pernikahan terbuka – sebuah lamaran, menurutnya, tidak sepenuhnya berdasarkan kesepakatan. Reaksi yang muncul sangat intens, dengan pengguna media sosial membedah narasi tersebut dan mempertanyakan cerita West mengenai peristiwa tersebut.
Kontroversi ini bukan hanya tentang dinamika hubungan; ini menyentuh isu-isu yang lebih mendalam seputar citra tubuh, identitas gender, dan ekspektasi terhadap figur publik. Seperti yang dijelaskan oleh penulis senior Slate, Scaachi Koul, dalam sebuah diskusi dengan Today, Dijelaskan, sebagian besar reaksi balik tersebut berakar pada kritik yang tidak relevan terhadap berat badan West atau identitas non-biner suaminya. Namun, inti perdebatan berpusat pada apakah Barat dipaksa melakukan poliamori, suatu dinamika yang oleh beberapa orang disebut sebagai “poliamori koersif”.
Suami West, Aham, dikabarkan menghadirkan poliamori sebagai syarat pernikahan mereka. Meskipun West menegaskan otonominya, para kritikus mempertanyakan apakah dia benar-benar menyetujui atau merasa tertekan untuk mematuhinya. Situasi semakin rumit ketika Aham mulai berkencan dengan wanita lain, Roya, yang akhirnya tinggal bersama mereka, sehingga secara mendasar mengubah struktur hubungan mereka.
Memoar tersebut mengungkapkan keengganan awal West dan akhirnya menerima situasi tersebut, menyoroti dampak emosional dalam menjalani hubungan non-tradisional. Pergeseran ini telah meresahkan banyak pembaca, yang melihat Barat sebagai representasi dari pengalaman mereka sendiri dan merasa protektif terhadap narasinya. Perdebatan ini menggarisbawahi bagaimana pilihan pribadi, terutama pilihan tokoh masyarakat, dapat memicu reaksi keras dari penonton yang merasa tertarik dengan cerita mereka.
Pada akhirnya, Kawat Gigi Dewasa tidak menandakan “kematian feminisme milenial”, seperti yang dikemukakan beberapa orang, namun lebih mencerminkan kompleksitas gerakan sosial dan hubungan pribadi yang terus berkembang. Memoar West menyajikan kisah pengalaman seorang wanita yang mentah dan tanpa filter, menantang norma-norma konvensional dan memicu percakapan yang tidak nyaman namun perlu tentang persetujuan, paksaan, dan ketidakstabilan hubungan modern.
